A.
Hakikat Autisme
1.
Pengertian Anak dengan Gangguan Autisme
Autis,
autistik atau autisme itu sendiri adalah merupakan sebuah gangguan perkembangan
pervasif yang luas, berat dan kompleks. “Auto”
yang berarti sendiri dan “isme” yang
berarti aliran/senang, yang gangguan tersebut meliputi gangguan dalam hal ;
berinteraksi sosial, berkomunikasi, berbahasa, berperilaku, dalam hal emosi,
kognitif dan lain sebagainya.[1]
Meningkatnya jumlah anak penyandang gangguan
autisme saat ini, sangat menarik perhatian berbagai
elemen masyarakat untuk mengetahui lebih lengkap berbagai hal mengenai anak
dengan gangguan autisme, karena anak dengan
gangguan autisme dalam
kegiatannya menampakkan perilaku yang “unik”, bagi masyarakat yang sangat awam
terhadap masalah anak dengan gangguan autisme menganggap bahwa anak dengan
gangguan autisme adalah anak
cacat mental, anak nakal, bahkan sampai pada tingkat yang lebih berat yaitu
“anak gila”, berbagai pandangan tersebut didasarkan pada perilaku anak dengan
gangguan autisme yang melakukan
aktifitas-aktifitas yang tidak wajar yang biasanya hanya dilakukan oleh orang
yang tidak normal, seperti berbicara sendiri, teriak-teriak, tertawa sendiri,
menyakiti diri sendiri, bahkan sampai menyakiti orang lain tanpa sebab yang
jelas.
Anak dengan gangguan autisme bukan “anak ajaib” atau “pembawa hoki” (gifted child), seperti kepercayaan sebagian orang tua. Jadi,
jangan mengharapkan keajaiban muncul darinya. Namun, ia juga bukan bencana,
kehadirannya ditengah keluarga tidak akan merusak keharmonisan keluarga. Anak dengan
gangguan autisme seperti anak-anak lain, mereka membutuhkan bimbingan dan
dukungan lebih dari orang tua dan lingkungannya untuk tumbuh dan berkembang
agar dapat hidup mandiri.
Penyandang anak dengan gangguan autisme tidak dapat berhubungan dengan orang lain secara
berarti, serta kemampuannya untuk membangun hubungan dengan orang lain
terganggu karena ketidakmampuannya untuk berkomunikasi dan untuk mengerti
perasaan orang lain.
Menurut D.S. Prasetyono seperti yang dikutip dari buku
serba-serbi anak autis, anak dengan gangguan autisme adalah gangguan perkembangan yang khususnya terjadi pada masa anak-anak
yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah
hidup dalam dunianya sendiri.[2] Akibatnya anak tersebut terisolasi
dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan
minat yang obsesif.
Gejala anak dengan gangguan autisme
dapat timbul sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Pada sebagian anak,
gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang ibu yang sangat cermat
memantau perkembangan anaknya akan melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya
mencapai usia satu tahun. Hal yang akan sangat menonjol adalah tidak adanya
kontak mata atau sangat kurangnya tatapan mata yang diberikan oleh anak
terhadap orang lain.
Dengan demikian, secara sederhana
definisi dari anak dengan gangguan autisme dapat disimpulkan sebagai berikut :
“merupakan sebuah gangguan perkembangan pervasif yang sangat berat, kompleks
dan luas yang kaitannya dengan gangguan dalam hal berinteraksi
sosial, berkomunikasi, berbahasa, berperilaku, emosi, maupun kognitifnya, yang
akan sangat membutuhkan penanganan-penanganan khusus guna meminimalisir
gangguan yang dialaminya”.
2.
Karakteristik Anak dengan Gangguan Autisme
Kebanyakan anak dengan gangguan autisme berpenampilan seperti anak pada umumnya, tetapi lebih banyak dari mereka yang menghabiskan
waktunya dengan bermain puzzle dan
berperilaku mengganggu, yang berbeda dengan anak-anak pada
umumnya (termasuk orang
tuanya). Mereka sering digambarkan tinggal didunianya sendiri.
Menurut Depdiknas, seperti halnya anak pada
umumnya, penyandang anak
dengan gangguan autisme memiliki
perbedaan dalam kemampuan dan perilaku. Masing-masing anak memiliki sekumpulan
ciri-ciri yang unik dari anak dengan gangguan autisme sebagai berikut : hambatan dalam membentuk
hubungan sosial berupa (1) cenderung menyendiri dan tidak inisiatif untuk
melakukan kontak dengan orang lain maupun teman sebaya, (2) kesulitan dalam
mengekspresikan emosi dan memahami perasaan orang lain, (3) kurang dapat
bereaksi secara tepat terhadap perasaan dan emosi orang lain, (4) tidak mampu
membentuk hubungan pertemanan dan berinteraksi sosial sesuai usianya, (5) minat
terbatas dan tidak dapat bermain secara akurat, (6) keterbatasan dalam
keterampilan sosial.
Hambatan dalam komunikasi verbal dan non verbal berupa
(1) keterlambatan atau kegagalan dalam perkembangan bahasa, yang mana tidak
dikompensasikan dengan penggunaan gesture
(isyarat), (2) kegagalan dalam merespon komunikasi orang lain, seperti misalnya
tidak bereaksi bila dipanggil, (3) penggunaan bahasa yang repetitif dan
stereotip, (4) kebingungan dalam penggunaan kata ganti diri sendiri seperti
saya menjadi kamu dan sebaliknya.
Pola-pola perilaku yang unik berupa (1) gerakan tubuh
berulang-ulang yang mengganggu proses pelaksanaan tugas, seperti mengepakkan
tangan, menjentikkan jari, berteriak-teriak, loncat-loncat dan sebagainya, (2)
preokupasi pada bagian-bagian dari atau ketertarikan pada objek tertentu, (3)
tidak menyukai perubahan, (4) memaksakan rutinitas secara detail, (5) minat
yang sangat sempit dan terbatas.[3]
Selain ciri-ciri tersebut kriteria
anak dengan gangguan autisme juga
dapat dilihat dari beberapa sisi diantaranya dari interaksi sosial, komunikasi,
perilaku sosial emosi, sensorik motorik.
Dari interaksi sosial, bagaimana anak
berkomunikasi (1) echolalia, (2) isi pembicaraan aneh, (3) tidak berkomunikasi secara dua arah, (4)
aneh dan isi pembicaraan yang tidak relevan. Dari
bagaimana anak berperilaku pada hal dan minat yang terbatas pada itu-itu saja (1) menyendiri, (2) pasif, (3) kurang motivasi, (4) tantrum, (5) agresif. Atau dari gangguan emosi dan kognitif anak
seperti (1)
anak kesulitan mengidentifikasi emosi dan mengekspresikan emosi, (2) cenderung lebih banyak menunjukkan emosi
yang negative, (3) kurang
tertarik dan tidak mau berkomunikasi dengan menatap wajah orang lain. Dan dari segi kognitif, rata-rata anak dengan
gangguan autisme mempunyai memori yang luar biasa walaupun cenderung tidak
fungsional, atau dengan problem solving
yang buruk terutama tidak mampu membaca informasi kontekstual.
Menurut D.S. Prasetyono dalam bukunya serba-serbi anak
autis, dikemukakan bahwa anak dengan gangguan autisme memiliki kemungkinan
untuk dapat disembuhkan. Akan tetapi hal ini tergantung dari berat tidaknya
gangguan yang ada pada anak.[4]
Perilaku anak dengan gangguan autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan lain
yang bukan autisme, sehingga dapat dilakukan tes klinis lainnya untuk dapat
memastikan kemungkinan-kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karakteristik dari anak penyandang autisme ini banyak
ragamnya, sehingga cara diagnosis yang paling ideal adalah dengan memeriksakan
anak pada beberapa tim dokter ahli, seperti ahli neurologi, ahli psikologi
anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli
profesional lainnya di bidang autisme.
Mungkin secara sekilas, penyandang anak dengan gangguan autisme
dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku,
gangguan pendengaran, atau berperilaku aneh dan nyentrik. Hal yang dapat lebih
menyulitkan adalah jika semua gejala tersebut timbul pada anak secara
bersamaan. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membedakan antara anak
dengan gangguan autisme dengan penyakit lainnya, sehingga diagnosis yang akurat
dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan tindakan dan
arahan selanjutnya yang sebaiknya diberikan untuk anak dengan gangguan autisme.[5]
3.
Perilaku Anak dengan Gangguan Autisme
Perilaku anak dengan gangguan autisme
berbeda dari perilaku anak pada umumnya. Dengan mengetahui ciri-ciri dan
karakteristik anak dengan gangguan autisme maka dapat dikatakan bahwa perilaku
anak anak dengan gangguan autisme dibagi menjadi dua, yaitu perilaku yang
berlebihan (excessive) dan perilaku
yang berkekurangan/pasif (deficit). [6]
Yang termasuk kedalam perilaku yang
berlebihan antara lain : (1) perilaku self
abusive berupa perilaku yang suka menyakiti dirinya sendiri seperti dengan
menggigit, mencakar diri sendiri, memukul-mukul kepalanya, menjambak rambut,
dsb, (2) perilaku agresif yaitu
perilaku menyerang yang ditujukan kepada orang lain, seperti mencubit,
mencakar, menendang, menggigit, memukul, dan sebagainya, (3) perilaku tantrum yaitu perilaku mengamuk atau marah besar tanpa suatu sebab
yang pasti. Ini di contohkan dengan menjerit-jerit, berguling-guling,
berteriak, menangis, meloncat, dan sebagainya,
(4) perilaku stimulasi diri yaitu perilaku yang ditujukan untuk dirinya sendiri
yang dilakukan untuk membuat dirinya asik, pada umumnya perilaku ini terlihat
tidak normal seperti mengepak-ngepakkan tangannya, bertepuk tangan secara
berulang-ulang, melompat-lompat, berputar seperti mobil-mobilan, dan sebagainya, dan (5) masuk ke dalam sesuatu
atau memberantakkan sesuatu yang ditujukan untuk dirinya sendiri, yang
dilakukan seperti masuk ke dalam lemari, memberantakkan buku-buku atau mainan,
dan sebagainya.[7]
Sedangkan yang termasuk ke dalam
perilaku berkekurangan/pasif (deficit)
antara lain : (1) adanya gangguan berbicara seperti ekolalia (membeo),
mengulang kata atau kalimat yang di dengarnya, (2) perilaku sosial yang tidak
berkembang seperti menganggap orang disekitarnya hanya sebagai objek mainannya
dan sebagainya,
(3) sensasi indera yang kurang di fungsikan seperti dicubit dan tidak merasakan
sakitnya, terlihat tuli padahal mampu mendengar, dan sebagainya, (4) tidak
dapat bermain dengan benar seperti bermain secara monoton (itu-itu saja), stereotipik, dan sebagainya, (5)
ekspresi emosi yang kosong seperti melamun, memandang tetapi tidak melihat. Dengan mengetahui perilaku yang berlebihan (excessive) dan perilaku yang
berkekurangan (deficit), maka guru
dapat memberikan pengajaran, pelatihan ataupun pelayanan kepada anak dengan
gangguan autisme dengan bertujuan untuk memperbaiki perilaku diatas.
Caesars Rewards - Hotel Rewards - MJH Hub
ردحذفPlay 대구광역 출장마사지 now for an exclusive $30 free breakfast credit, daily breakfast credit, 계룡 출장샵 hotel 세종특별자치 출장마사지 room credit, and casino room 여주 출장안마 credit. 태백 출장마사지 Use code WABBYEE or visit www.lvmo.com.